Minggu, 10 Mei 2026, seorang kurir datang ke rumah mengantar novel Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong karya Eka Kurniawan. Saya langsung membuka dan membacanya. Waktu itu pukul 14.30. Baru membaca tiga bab, mulut saya mulai menguap lebar dan rasa kantuk datang menyerang. Padahal nasi padang yang sudah saya beli belum sempat dimakan. Saya heran, mengapa mengantuk sekali, sedangkan saya baru sarapan sekitar tiga jam sebelumnya, tepat pukul 12.00. Seharusnya mata masih segar.
Saya pun memasang alarm pukul 16.30. Satu setengah jam rasanya cukup untuk mengusir kantuk. Sebelum tidur saya bertekad novel itu harus selesai dibaca hari itu juga. Alasannya sederhana: tiga bab pertama terasa sangat menarik. Seperti karya-karya Eka Kurniawan sebelumnya, novel ini penuh keabsurdan dan kenakalan dalam pemilihan diksi.
Saya terbangun lebih awal karena suhu AC terlalu dingin, sementara istri saya memang pecinta udara dingin. Saya turun ke lantai bawah dan memutuskan makan nasi padang. Setelah perut kenyang, badan terasa hangat. Saya kembali mengambil novel dan kacamata, lalu melanjutkan membaca di ruang televisi.
Sambil membaca, saya menyalakan televisi sebagai teman. Kebetulan di Indosiar sedang siaran langsung pertandingan Persija melawan Persib. Pertandingan memasuki babak kedua. Persija tertinggal 1-2 dari rival bebuyutannya. Walau pertandingan berlangsung di Samarinda, stadion penuh penonton dan laga berjalan sengit dengan hujan kartu, mulai dari pemain hingga pelatih.
Suara televisi saya mute. Saya terus membaca sambil sesekali melirik skor di layar. Ternyata cara itu cukup ampuh mengusir kantuk. Saya bisa membaca tanpa menguap. Sayangnya, setelah pertandingan selesai, rasa kantuk datang lagi. Kali ini saya menyimpulkan penyebabnya mungkin karbohidrat dari nasi padang. Karena sudah bertekad menamatkan novel, saya harus mencari strategi lain.
***
Di usia 57 tahun saya justru susah tidur, tetapi anehnya kalau membaca buku mulut malah mudah menguap. Untung saya punya jurus ampuh mengusir kantuk: minum kopi. Namun bukan sembarang kopi. Salah satu yang paling manjur adalah Kopi Kenangan Mantan. Pengetahuan itu saya dapat secara tidak sengaja.
Suatu sore anak saya sedang belajar sambil minum kopi tersebut dari botol satu liter. Saya iseng meminta segelas. Ternyata rasanya enak. Perpaduan gula, susu, dan kopi terasa pas di lidah. Waktu itu saya juga sedang membaca novel demi menciptakan suasana kondusif agar anak saya semangat belajar.
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 00.35 dini hari, tetapi mata saya tetap segar. Saya masuk kamar karena besok harus bekerja, namun tetap sulit tidur. Saat bangun untuk ke kamar mandi, saya melihat anak saya masih belajar. Saya melirik jam di ponselnya: pukul 03.00. Dari situ saya sadar bahwa kopi itu memang ampuh menjaga mata tetap terjaga. Sejak saat itu, setiap harus begadang untuk perjalanan jauh, menonton bola, atau membaca, saya selalu membeli Kopi Kenangan.
***
Sore itu saya memutuskan membaca di kafe sambil ngopi. Memang bisa memesan lewat aplikasi, tetapi rasanya lebih hemat dan lebih nyaman membaca langsung di kafe daripada di rumah.
Awalnya saya hendak ke Kopi Kenangan di dekat rumah. Namun di tengah perjalanan saya ragu karena tempatnya terlalu ramai dan tutup pukul 22.00. Saya lalu mempertimbangkan pindah ke KFC atau Janji Jiwa yang lebih dekat. Ketika tiba di depan Janji Jiwa, suasana terlihat sepi. Hanya ada satu meja di luar yang ditempati pengemudi ojek online.
Saya pun masuk. Namun muncul keraguan: kopi apa yang setara dengan Kopi Kenangan Mantan? Saya lalu bertanya kepada pelayan, “Mbak, kopi apa yang selevel Kopi Kenangan Mantan?”
“Sahabat Jiwa,” jawabnya yakin.
“Pesan satu, ukuran reguler,” kata saya mantap.
Saya memilih meja dengan pencahayaan terang menghadap jalan raya. Setelah beberapa teguk, saya menyadari rasanya tidak jauh berbeda dengan kopi langganan saya. Bahkan terasa lebih lembut. Saya mulai menikmati suasana dan menemukan alternatif kopi baru.
Sayangnya, saya lupa membawa kacamata. Karena di luar sudah gerimis, saya malas pulang mengambilnya. Selama satu setengah jam saya membaca sambil memicingkan mata. Lumayan, tulisan masih tampak sekitar delapan puluh persen jelas. Setelah kopi tandas dan cuaca cerah saya memutuskan pulang.
Sesampainya di rumah, saya langsung mengambil kacamata dan melanjutkan membaca di ruang tamu yang tenang dan sejuk. Kali ini saya memilih membaca bab terakhir lebih dahulu karena penasaran dengan ending cerita.
Jamal, tokoh anak saleh dalam novel itu, mati tragis tertabrak mobil saat menyeberang jalan dalam keadaan mabuk. Ia terpengaruh teman-temannya meminum bir hitam yang dicampur jamur tahi kerbau dan bunga kecubung kering.
Strategi membaca bab terakhir ternyata cukup ampuh membangkitkan semangat saya menyelesaikan novel. Saya dibuat penasaran: bagaimana mungkin Jamal yang saleh dan Sato Reang berubah menjadi begundal? Suspense itulah yang membuat saya terus membaca. Ditambah efek kafein dari kopi Sahabat Jiwa yang benar-benar ampuh.
***
Ada bagian novel yang membuat saya merenung panjang sebagai seorang ayah.
Saya merasa pola mendidik anak dalam urusan agama ternyata mirip dengan Pak Umar, ayah Sato Reang. Saya pernah memaksa anak bangun pagi untuk pergi ke gereja atau mengajaknya mengikuti misa sampai larut malam tanpa bertanya apakah ia mengantuk atau ingin melakukan hal lain. Saat kecil, anak saya tidak berani menolak. Namun sekarang, ketika sudah dewasa dan mandiri, ia bebas menentukan arah hidupnya sendiri, termasuk mulai malas ke gereja.
Dalam novel, Sato Reang sangat gembira ketika mendengar ayahnya mengajak keluarga pergi piknik. Selama hidupnya ia tidak pernah mengenal hiburan seperti teman-temannya: menonton bioskop, pergi ke pasar malam, atau sekadar bermain. Hari-harinya dipenuhi kegiatan dari masjid ke masjid.
Namun kebahagiaan itu ternyata semu. Sesampainya di tempat tujuan, Sato Reang membaca spanduk besar bertuliskan “Pengajian Kyai Syekh Ruhayat Jamil.” Piknik versi Pak Umar ternyata hanyalah menghadiri pengajian akbar. Bayangan Sato Reang tentang kebun binatang atau wisata alam pun runtuh seketika.
Saya lalu teringat pengalaman sendiri. Dulu saya sering mengajak anak dan istri mengikuti “wisata rohani”: ziarah ke gua Maria, doa rosario di bukit, hingga retret beberapa hari. Saya sadar, konsep wisata rohani saya ternyata tidak jauh berbeda dengan “piknik” versi Pak Umar.
Bedanya, saya masih diberi kesempatan hidup untuk menyadari dan mengoreksi kesalahan itu.
Pola asuh Pak Umar yang keras melahirkan konflik batin pada diri Sato Reang. Sejak kecil hingga remaja, hidupnya penuh aturan: wajib salat subuh, mengaji setiap malam, tidak boleh bermain bersama teman, dan tidak boleh meninggalkan ibadah. Ketika ayahnya meninggal, kebebasan yang selama ini dirampas meledak tanpa kendali. Ia berubah menjadi pembohong, pemabuk, suka membuat kerusuhan, bahkan menonton film dewasa.
Novel ini mengingatkan saya bahwa cinta, kebebasan berpendapat, dan dunia bermain anak tidak boleh dirampas atas nama kebaikan. Sebab tekanan yang terlalu keras justru dapat melahirkan pemberontakan.
Dalam filsafat dan sosiologi ada istilah terkenal dari Hannah Arendt, yaitu “banalitas kejahatan”. Maksudnya, seseorang kadang melakukan kesalahan besar bukan karena ia sangat jahat, melainkan karena mengikuti kebiasaan, aturan, atau lingkungan tanpa berpikir kritis.
Contoh sederhana di sekolah adalah ikut membully teman hanya karena semua teman lain melakukannya. Dalam novel ini, Sato Reang ikut membully Jamal karena lingkungan pertemanannya melakukan hal yang sama.
Pada akhirnya, novel ini bukan hanya membuat saya begadang semalaman ditemani kopi, tetapi juga membuat saya berkaca sebagai seorang ayah.