Tidak munafik, sampai saat ini saya sering kali masih mengukur kebahagiaan dari benda atau hal di luar diri saya. Misal, saya akan bahagia jika mencapai atau memiliki sesuatu. Mulai istri cantik, anak santun, pekerjaan, mobil, hape, pakaian, dan banyak lagi. Ternyata itu salah besar. Pasangan dan anak adalah manusia biasa. Bisa berubah baik fisik dan sifatnya. Tidak ada yang bisa menjamin mereka baik selamanya atau buruk selamanya. Apalagi fisik. Semakin menua semakin jelek, tua, dan kemungkinan menyebalkan.
Mendapatkan pasangan cantik atau tampan cita-cita semua orang. Dan itu tidak salah, sah-sah saja. Tetapi harus naik tingkat supaya lebih bahagia lagi. Caranya bagaimana? Naikkan dari cinta fisik ke cinta spritual. Sadari bahwa pasangan kita nanti pasti tua, semakin lanjut usia wajah semakin keriput, jelek, dan sakit-sakitan. Terus belajar menghidupi cinta lewat pelayanan dan kasih. Ingat kasih itu lemah lembut, murah hati, memaafkan, sabar, dan seterusnya. Ketika kita mulai melakukan olah rogo (pelayanan fisik) kepada pasangan lewat membuat minum, masak kesukaan, bebenah rumah itu salah satu cara menghidupkan cinta.
Jauhan kegiatan olah rogo dari keinginan mendapatkan pujian. Seandainya pujian itu terlontar anggap itu riak, kesombongan yang datang dari mulut Anda. Karena kalau Anda masih gembira setiap mendapat pujian itu, bisa pada masanya ketika pasangan Anda tidak memuji pekerjaan Anda, kalian kecewa, atau paling tidak berpikir, “Kok pasangan saya tidak memuji, ya?’
Relasi akrab dengan pasangan itu wujud perintah Allah. ‘Kasihi sesama manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.’. Pasangan tidak sekedar sesama manusia. Pasangan kita pilih berdasarkan kretiria dan indikator yang kita tetapkan sampai pada akhirnya kita bawa ke depan Altar untuk bersumpah di atas kitab suci dan Imam. Sudah pasti pasangan kita akan kita kasihi dengan segenap hati dan selamanya. Ketika masa pacaran rela jauh-jauh mengantar dan menjemput, di masa tua terus dihidupi dan harus dirawat.
Seandainya istri saya ditanya berapa skor saya sebagai suami. Saya yakin di bawah tujuh puluh. Jauh dari standar ketuntasan minimal (SKM) seorang suami ideal. Gaji di bawah UMSI (upah minimum suami ideal). Angin-anginan bebenah rumah, Jarang masak. Tidak pernah memberi gaji dengan alasan gaji istri lebih besar, dan banyak lagi.
Cara saya menghidupi perkawinan sesekali mengesampingkan hobby saya, dan memenui kesenangan istri. Saya mencoba bebenah rumah-mengerjakan pekerjaan domestik, banyak mendengar, dan terutama mengajak makan di luar.
Lebih dari lima belas tahun kami tidak memperkerjakan asisten rumah tangga. Semua kami kerjakan bersama. Dulu, sewaktu belum menyadari bahwa pengorbanan membuat hati bahagia, menyapu rasanya berat sekali. Apalagi cuci baju dan mengepel. Sekarang berbeda. Ketika malas menyampu lantai, malam saat tidur jadi kepikiran terus. Akhirnya istirahat tidak maksimal. Bangun pagi malas dan hati tidak gembira. Justru setelah bebenah rumah, hati rasanya senang, tidak nyenyak. Mencium wangi aroma pewangi menguap dari lantai bersih dan mengkilap terasa hati adem. Memandang jemuran pakaian tersusun rapi di rak jemuran laksana memandang lukisan Afandi. Semua itu hanya cara pandang kita terhadap pekerjaan yang kita lakukan.
Siapa pun selepas kerja pasti lelah. Belum dihadapkan dengan kemacetan di jalan. Sampai rumah cucian menumpuk. Lantai berdebu. Tempat tidur berantakan. Pasangan dan anak belum pulang kerja. Asisten rumah tidak punya. Mengeluh tiada guna. Berharap pasangan atau anak peka yang ada kecewa. Maka, harus ada pengorbanan, tidak harus jadi Altruis, layaknya Yesus, cukup korbankan waktu leha-leha nonton you tube atau tivi barang 2 jam untuk merendam pakaian, ambil sapu, pel lantai.
Katarsis
Jangan sekali-kali Anda pulang kerja selesai melepas sepatu dan ganti baju lantas baringan nonton tivi atau you tube. Maksud hati rileks sebentar barang tiga puluh atau satu jam, baru bebenah rumah. Saya jamin kantuk akan segera mengantar Anda ke tidur yang lelap. Ini sudah saya buktikan. Pada akhirnya tidak bebenah. Ketika istri sudah dan anak sampai di rumah sudah pukul sembilan belas. Lanjut makan malam bersama. Orang usia macam saya, di atas lima puluh tahun, begitu perus kemasukan karbohidrat tidak menunggu lama mulut mulai menguap-uap.
Perlawanan apa pun sia-sia jika kantuk sudah datang. Terjadilah negosiasi. Bebenah besok saja, pikir saya. Segera saya sambar handuk selesai cuci piring dan mandi.
Berdasarkan pengalaman itu hari berikutnya saya cukup melepas sepatu, dan mengeluarkan hape. Memulai ritual secara urut dan cukup menjalani sesuai SOP. Pertama memutar lagu ke sukaan dari hape. Memasang earphoe. Merendam pakaian. Ambil sapu dan mengepel.
Awal memulai menyapu capek dan malas. Begitu lantai atas selesai badan sudah berkering. Lelah dan malas perlahan hilang. Ditambah hentakan musik dan dendangan kecil keluar dari mulut saya menambah semangat menyapu. Jangan ditanya bagaimana tubuh saya saat sudah mengepel. Basah kuyup. Tapi merasa segar. Mendengarkan musik dan menyanyi saat bekerja bagi saya katarsis, pembersihan diri dari malas dan lelah.
Begitu juga saat mencuci sesudah mengepel. Saya melepas eaphone. Hape saya bawa ke kamar mandi dan volume sengaja saya stel maksimal. Saya mencuci sambil nyanyi bak konser. Tanpa terasa pekerjaan selesai. Saya bisa olah raga dengan bahagia sambil menikmati wanginya lantai bersih dan pemandangan jemuran tersusun rapi melambai-lambai ditiup angin malam.
Katarsis kedua saya, berdoa. Jujur saya bukan pendoa yang baik, bahkan jarang ke gereja. Saya mencoba mengikuti anjuran salah satu pendiri Google. Salah satu pendiri ke-14. Saya lupa namanya. Dia mengatakan untuk bisa hidup bahagia adalah mendoakan keluarga dan teman satu ruangan di kantor setiap pagi. Perbuatan pendiri Google itu saya lakukan setiap malam sambil olah raa. Apa hasilnya? Saya merasa damai dengan teman seruangan, bahagia bersama pasangan dan anak.
Apa katarsis Anda? Hanya Anda sendiri yang tahu dan bisa menciptakan. Karena setiap orang memilik katarsis berbeda-beda.