Opini

Artificial Intelligence Ancaman atau Peluang bagi Masa Depan Pekerjaan Manusia

Jumat 29 Mei 2026 | 22:49 WIB
Oleh: Khotib

By: Ventus Agung Ginting (Mahasiswa UNPAM Prodi Teknik Informatika)

Perkembangan teknologi di era digital saat ini berlangsung sangat cepat, salah satunya adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kehadiran AI mulai digunakan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, industri, kesehatan, bisnis, hingga dunia kerja. Teknologi ini mampu membantu manusia menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan efisien. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran manusia dalam dunia kerja.

Hal tersebut dibahas dalam artikel Kompas.com yang menjelaskan bahwa banyak masyarakat mulai merasa khawatir terhadap perkembangan AI. Berdasarkan survei Forbes Advisor tahun 2023, sebanyak 77 persen pekerja di Amerika Serikat khawatir AI akan menyebabkan hilangnya pekerjaan dalam waktu dekat. Selain itu, McKinsey Global Institute memperkirakan AI dapat menggantikan sekitar 400 juta pekerjaan di seluruh dunia.

Dalam artikel tersebut, Dosen Komunikasi Universitas Indonesia, Firman Kurniawan mengatakan: “Ketika kita menempatkan teknologi bukan sebagai co-pilot atau pembantu, itu sebetulnya ancaman buat kita sendiri. Batasannya ada di situ.”

Menurut saya, pendapat tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Banyak masyarakat mulai terlalu bergantung pada teknologi sehingga kemampuan berpikir dan kreativitas manusia perlahan berkurang. AI memang dapat membantu pekerjaan manusia, tetapi jika digunakan secara berlebihan maka manusia dapat kehilangan kemampuan dasar yang seharusnya tetap dikembangkan.

Namun, tidak semua pihak memandang AI sebagai ancaman. Artikel dari CNBC Indonesia menjelaskan bahwa Asian Development Bank Institute (ADBI) menemukan pemanfaatan AI secara optimal justru mampu meningkatkan produktivitas dan bahkan membuka peluang pekerjaan baru. Artinya, AI tidak selalu memberikan dampak negatif apabila masyarakat mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Saya berpendapat bahwa masalah utama sebenarnya bukan terletak pada AI, melainkan kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan zaman. Kemajuan teknologi memang tidak dapat dihentikan, sehingga masyarakat harus mampu beradaptasi dan meningkatkan keterampilan digital agar tidak tertinggal. Jika manusia tidak siap menghadapi perkembangan teknologi, maka kesenjangan sosial dan pengangguran dapat meningkat.

Fenomena ini juga berkaitan dengan hukum di Indonesia. Dalam Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 disebutkan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.”

Selain itu, Pasal 28D ayat (2) UUD 1945 menjelaskan bahwa setiap orang berhak bekerja dan memperoleh perlakuan yang adil dalam hubungan kerja. Oleh karena itu, pemerintah perlu membuat regulasi yang jelas mengenai penggunaan AI agar perkembangan teknologi tetap memperhatikan hak-hak tenaga kerja manusia.

Jika dikaitkan dengan nilai Pancasila, penggunaan AI yang tidak terkendali dapat mencederai sila ke-2, yaitu “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, karena hilangnya pekerjaan dapat memengaruhi kesejahteraan masyarakat. Selain itu, sila ke-5 “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” juga dapat terganggu apabila perkembangan teknologi hanya dinikmati oleh kelompok tertentu yang memiliki akses dan kemampuan digital lebih baik.

Dalam teori Determinisme Teknologi yang dikemukakan Marshall McLuhan, perkembangan teknologi dapat memengaruhi pola hidup dan cara berpikir masyarakat. Teori ini sesuai dengan kondisi saat ini, di mana AI mulai mengubah sistem kerja manusia dalam berbagai bidang kehidupan.

Sebagai solusi, pemerintah perlu meningkatkan pendidikan dan pelatihan keterampilan digital bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan para pekerja. Selain itu, perusahaan juga harus menggunakan AI secara bijak dengan tetap mengutamakan manusia dalam pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, empati, dan nilai kemanusiaan.

Ke depannya, saya berharap AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan menggantikan manusia sepenuhnya. Dengan regulasi yang tepat, pendidikan yang memadai, dan penggunaan teknologi secara bijak, AI dapat menjadi peluang besar bagi kemajuan bangsa tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Berita Terkait

Komentar