Nasional

Simpati Terhadap Korban DBD, Politikus Ini Sumbang Alat Fogging

Selasa 23 Februari 2016 | 11:52 WIB
Oleh: Amir Fiqi

Jakarta- Maraknya korban Deman Berdarah Dengue (DBD) telah menyerap perhatian berbagai kalangan, termasuk dari lingungan legislator. Anggota Komisi IV DPR, Fadholi termasuk yang menaruh simpati terhadap wabah penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes Aigypti tersebut. Guna mengantisipasi penyebaran lebih luas, dia menyumbangkan alat fogging (pengasapan-red) untuk masyarakat Desa Penyangkrinan, Kecamatan Wleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

“Alat ini tak hanya digunakan untuk desa ini (Penyangkringan-red) saja, tapi bisa digunakan untuk satu kecamatan. Tinggal diatur penggunaannya saja,” jelas anggota DPR dari Dapil Jawa Tengah I ini.

Ia menuturkan, di desa-desa yang jauh dari pusat kecamatan selama ini mengalami kesulitan sekedar untuk meminjam alat fogging saja. Prosedur peminjaman yang diterapkan harus melalui mekanisme birokrasi yang rumit dan berbelit, sehingga memakan waktu cukup lama. Sebagai ilustrasi, untuk meminjam alat fogging itu warga harus melewati perijinan dari berbagai instansi sambil membawa serta surat rekomendasi dari dokter.

Padahal, persoalan yang dihadapi warga adalah wabah penyakit yang tak bisa ditunda-tunda, karena menyangkut keselamatan orang banyak. Karena itulah, politisi Fraksi partai NasDem ini menilai jika hal itu dibiarkan makan akan rawan terhadap jatuhnya korban lebih banyak.

“Di sana sudah ada korban sekitar 11 orang dan sedang di rawat di rumah sakit. Memang prosedurnya (peminjaman alat fogging, red) ribet, harus ada korban dulu baru pemerintah bergerak,” sesalnya.

Dengan bantuannya tersebut, Fadholi berharap akan terbentuk kesadaran dan kesiagaan lebih dini bagi segenap warga untuk mengantisipasi wabah penyakit. Apalagi, saat ini musim hujan mulai tiba, di mana persebaran virus DBD biasanya lebih intensif seiring banyaknya medium reproduksi nyamuk tersebut. Sebagai wakil rakyat, dia tak ingin masyarakat Desa Penyangkringan berlama-lama menunggu prosedut untuk melakukan pengasapan terhadap sarang nyamuk. Apalagi, kesadaran warga untuk mengantisipasi wabah penyakit itu sebenarnya sudah ada, hanya terbentur pada keterbatasan alat dan prosedur peminjamannya.

Mesin fogging sendiri, hingga saat ini masih menjadi andalan masyarakat di Indonesia untuk menumpas nyamuk Aedes Aegepty dewasa. Dengan penyemprotan berkala, nyamuk dewasa berumur 8 hari yang juga membawa virus demam kuning (yellow fever), chikungunya, dan demam Zika  bisa mati. Namun, penanganan itu tak turut mematikan bibit-bibit dan telur nyamuk yang bersarang di genangan-genangan air. Oleh karena itu, Fadholi juga mengingatkan warga agar senantiasa menjaga kebersihan lingkungan dengan mengurangi genangan-genangan air yang menjadi medium perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.

“Tradisi mencegah wabah penyakit harus dilakukan secara menyeluruh, sehingga wabah itu bisa dimatikan dari akarnya. Ini sekaligus untuk mendorong agar warga terbiasa dengan pola hidup sehat, dengan menata lingkungan yang sehat,” pungkasnya.

Berita Terkait

Komentar