Opini

Pembelajaran Tatap Muka Terbatas: Tantangan dalam Keterbatasan

Kamis 11 Nopember 2021 | 19:47 WIB
Oleh: Agung Nugroho

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun lamanya membawa dampak yang signifikan pada semua sendi kehidupan, termasuk pendidikan. Kini, grafik penularan Covid-19 menunjukkan penurunan. Pemerintah juga menyatakan terus berupaya untuk mengendalikan situasi. Kenyataan ini tentu membawa kabar gembira akan keberlangsungan pembelajaran di sekolah.

Pemerintah, melalui Kemendikbud memberikan  panduan melaksanakan proses pembelajaran selama masa pandemi Covid-19. Salah satu diantaranya adalah kesiapan dalam melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Hal itu disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim saat mengumumkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19 secara virtual, Senin (15/6/2020).

Selanjutnya, semua pihak yang terlibat dalam proses keberlangsungan pembelajaran di sekolah menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menskenariokan pelaksanaan PTMT. Kesiapan tersebut didasarkan pada sejumlah persyaratan protokol kesehatan yang telah ditetapkan dalam memenuhi syarat pembukaan sekolah di zona hijau untuk kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di tengah masa pandemi Covid-19.

Syarat tersebut termuat dalam Surat Keputusan Bersama Empat Kementerian tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19). Empat menteri tersebut adalah Mendikbud, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).

Adapun tiga syarat lainnya adalah zona kota/kabupaten mesti berada di zona hijau, mendapatkan izin dari pemerintah daerah, dan mendapatkan izin dari orangtua. Ketiga syarat itu dijadikan pegangan dengan memperhatikan panduan kesiapan pembukaan sekolah untuk kegiatan belajar tatap muka di tengah masa pandemi Covid-19. Cakupannya meliputi, 1) Ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan seperti toilet bersih, sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer), dan disinfektan. 2) Mampu mengakses fasilitas kesehatan layanan kesehatan (puskesmas, klinik, rumah sakit, dan lainnya). 3) Kesiapan menerapkan area wajib masker kain atau masker tembus pandang bagi yang memiliki peserta disabilitas rungu.

Lantas, apakah semua berjalan baik-baik saja? Jika pertanyaan ini yang muncul, maka sudut pandang untuk menjawab pertanyaan tersebut harus dipahami sebagai tantangan yang perlu diselesaikan. Pada hakikatnya, melaksanakan PTMT berarti sadar bahwa akan banyak keterbatasan yang perlu dicari solusinya, karena pembelajaran tidak dilakukan sebagaimana biasanya dilakukan sebelum pandemi. Pilihan metode dan penggunaan teknologi untuk pembelajaran dilakukan sebagai ikhtiar memaksimalkan pertemuan yang ada agar keterserapan materi tercapai sesuai tujuan yang telah dirumuskan.

Dari segi penerapan protokol kesehatan, kebiasaan hidup bersih dan pemenuhan sarana dan prasarana penunjang yang harus ada di sekolah sudah jelas ada dalam panduan. Sekolah sebagai institusi pelaksana pembelajaran tentu berupaya memenuhinya. Hal itu juga terverifikasi secara ketat oleh pihak terkait, baik oleh dinas pendidikan, maupun pusat kesahatan masyarakat setempat sebelum PTMT dilaksanakan.

Namun, pembahasan kali ini difokuskan pada keterbatasan di luar ketersediaan sarana dan prasarana penunjang dalam menerapkan protokol kesehatan. Permasalahan yang menjadi fokus pembahasan saat pelaksanaan PTMT, meliputi 1) keefektifan pembelajaran dalam melaksanakan PTMT, 2) perubahan psikologis siswa yang mempengaruhi pelaksanaan PTMT, dan 3) ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah dalam menunjang keberhasilan PTMT. Permasalahan yang dikemukakan tersebut sebagai batasan kajian dalam membahas pelaksanaan PTMT yang telah terlaksana sampai saat ini.

Berbicara tentang keefektifan pembelajaran dalam melaksanakan PTMT, maka tidak bisa dilepaskan dengan ketepatan dalam memilih metode belajar dan pemanfaatan teknologi.

Blanded learning menjadi salah satu pilihan metode pembelajaran yang dipilih,  yakni dengan memadukan pembelajaran daring dan luring dalam satu waktu.  Siswa dalam satu kelas melaksanakan pembelajaran yang sama. Hal tersebut dilakukan karena mempertimbangkan aspek keselamatan siswa dalam pencegahan penularan Covid-19. Separuh siswa yang berada di sekolah secara bergantian sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, diharapkan memberikan ruang pelaksanaan protokol kesehatan yang dapat ditaati. Demikian juga, pemanfaatkan teknologi mempengaruhi keberlangsungan PTMT.

Dalam hal ini, metode blended learning membutuhkan kesiapan dari guru dalam merancang pembelajaran, sehingga ketercapaian materi baik yang menerimanya secara daring maupun luring memiliki pemahaman yang sama. Pada akhirnya, evaluasi yang dilakukan oleh guru untuk mengukur pemahaman siswa tentang suatu materi tidak terkendala oleh adanya keterbatasan ruang dan waktu saat menerima penjelasan dari guru. Di sisi lain, siswa juga dituntut untuk cepat beradaptasi dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Untuk semua itu, guru harus dipacu memanfaatkan teknlogi sebaik mungkin sebagai usaha untuk mendukung keberhasilan pembelajaran.

Keterbatasan selanjutnya yakni tentang bagaimana mental siswa dalam mengikuti PTMT. Pola pembelajaran daring yang telah berlangsung selama pandemi turut berkontribusi dalam perubahan sikap siswa ketika mengikuti PTMT. Sebagai contoh, didapati siswa yang kemudian enggan untuk aktif di kelas karena biasanya mereka cukup berada di depan kamera atau aktif dalam pembelajaran tanpa harus bertemu langsung guru dan teman-temannya. Siswa lebih banyak melakukan interaksi interpersonal daripada membangun komunikasi dengan guru maupun teman-temannya. Apalagi, ketuntasan pembelajaran pada online learning kebanyakan hanya dirancang agar siswa menyelesaikan setiap penugasan tanpa adanya ruang komunikasi yang intens dengan gurunya. Padahal, tidak semua pelajar memiliki tipe cara belajar yang sama dalam memahami materi.

Kejadian ini tentu menjadi tantangan bagi guru, yakni bagaimana melakukan pengondisian sebaik mungkin saat awal pembelajaran sebelum menyampaikan materi. Pengondisian tersebut dimaksudkan memberi kepercayaan pada siswa, bahwa mereka mesti memiliki kemampuan beradaptasi pada metode pembelajaran apapun selama masa pandemi Covid-19.

Berikutnya, ketika berbicara tentang sarana dan prasarana penunjang yakni berkaitan dengan bagaimana dukungan alat untuk melaksanakan pembelajaran blanded learning. Bagaimana keberadaan peralatan di sekolah menjadi tantangan yang mesti diadakan untuk memaksimalkan pelaksanaan PTMT. Berkenaan dengan ini, tidak semua sekolah memiliki kemampuan yang sama dalam penyediaan fasilitas penunjang pembelajaran.

Dengan demikian, pembahasan mengenai keterbatasan yang muncul saat pelaksanaan PTMT tidak dapat dielakkan. Mau tidak mau, sekolah juga harus sesegera mungkin beradaptasi menjadikan keterbatasan itu sebagai tantangan yang harus diselesaikan. Ketika kesadaran pentingnya bertatap muka dengan siswa sebagai bagian dari proses mendidik.

Penulis adalah Agung Nugroho, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UHAMKA.

Berita Terkait

Komentar